• Ming. Feb 8th, 2026

Diduga Curang dan Terstruktur, LPG Subsidi Kubu Raya Disuplai dari Agen yang Sama

ByAdmin Jejak Kalbar

Feb 7, 2026

Jejakkalbar.web.id-Distribusi LPG 3 kilogram di Kabupaten Kubu Raya semakin menguatkan dugaan adanya praktik curang yang terstruktur. Gas bersubsidi dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), sementara alur pasokan disebut berasal dari agen dan pengantaran yang sama, yakni PT Usaha Gas Bersama.

Di tingkat konsumen, LPG 3 kilogram dijual dengan harga Rp20.000 hingga Rp21.000 per tabung, melampaui HET Kabupaten Kubu Raya sebesar Rp18.500. Kondisi ini terjadi bukan karena antrean atau kelangkaan ekstrem, melainkan karena pola distribusi yang menyimpang.

Kalau mahal, bukan subsidi namanya. Sudahlah mahal, kadang-kadang gasnya tidak ada,” keluh seorang ibu paruh baya saat ditemui wartawan.

Hasil penelusuran di lapangan mencatat pangkalan berinisial M.Y memiliki kuota resmi 80 tabung LPG 3 kilogram. Namun di luar kuota tersebut, M.Y juga diduga menerima sekitar 20 tabung tambahan dari pangkalan lain berinisial TB (SJA). Seluruh pasokan ini disebut diantar oleh pihak yang sama dan bersumber dari agen yang sama.

Berdasarkan pengakuan M.Y saat dikonfirmasi, LPG 3 kilogram tersebut dijual kembali ke toko-toko sembako dengan harga Rp21.000 per tabung. Ia juga menyebut bahwa tambahan tabung berasal dari pangkalan TB (SJA), yang sama-sama mendapatkan pasokan dari PT Usaha Gas Bersama.

Namun pernyataan tersebut berbanding terbalik dengan keterangan pemilik pangkalan TB (SJA), C.S, yang menyatakan hanya menjual LPG 3 kilogram langsung kepada masyarakat penerima manfaat. Perbedaan keterangan ini memunculkan dugaan adanya alur distribusi ganda yang tidak sepenuhnya tercatat.

Dari sisi ekonomi, indikasi kecurangan semakin terlihat. Harga tebus LPG 3 kilogram dari agen ke pangkalan berada di kisaran Rp15.500 per tabung. Dengan menjual sesuai HET saja, pangkalan telah memperoleh margin sekitar Rp3.000 per tabung. Ketika harga dinaikkan hingga Rp21.000, subsidi negara berpotensi berubah menjadi keuntungan pribadi.

Kesamaan agen dan pengantaran memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berpotensi terjadi secara sistematis. Tanpa pengawasan ketat pada level agen hingga pangkalan, distribusi LPG subsidi rawan dimanfaatkan di luar tujuan kebijakan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak agen maupun instansi pengawas terkait dugaan praktik tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini.

Pewarta:arf

Editor: redaksi 

Need Help?